Biodata
Nama : Nurul Hikmah Yanto
TTL : Ujung Pandang, 10 Januari 1993
Alamat : BTN Antara Blok A12/6
Prodi : Pendidikan Bahasa Inggris
Penempatan SM-3T di Kab.Tojo Una-Una, SULTENG
Mengikuti program SM-3T membutuhkan panggilan hati,
keikhlasan dan ketulusan. Dimanapun ditempatkan nantinya, dengan siapapun
dan bagaimanapun keadaannya maka hal tersebut sudah tak bisa dinegosiasi lagi.
Hal yang cukup menarik terjadi ketika pengumuman penempatan telah diumumkan
dari pihak Dinas Pendidikan Kab Tojo Una-Una. Banyak dari peserta SM-3T yang
merasa bahagia sekaligus sedih karena tempat yang mereka akan tuju cukup jauh
dari kota. SMAN 2 UNA-UNA menjadi destinasi yang akan kutuju untuk mengajar
selama setahun kedepan.
Gambar peserta SM-3T penempatan di Kecamatan Batudaka sebelum menyebrang ke pulau
Butuh waktu 3 jam untuk menyebrang ke penempatanku dari Ampana dikarenakan Batudaka merupakan bagian dari Kepulauann Togean. Kepala UPTD kecamatan lah yang memfasilitasi saya untuk menuju lokasi tersebut dengan menggunakan kapal kayu yang disebut “BODY”. Sungguh indahnya kumpulan kebun kebun kelapa di sekitar gugusan pulau yang bertebaran di laut. Setelah 3 jam melewati lautan yang luas, dari kejauhan saya melihat pulau panjang yang dipenuhi oleh pepohonan. Kata kepala UPTD “ so itu kecamatan batudaka, kalian akan tinggal disitu”. Perlahan-lahan efek toska mulai muncul dari dalam lautan pertanda lautnya semakin dangkal berbagai species ikan mulai muncul mendekati body yang saya gunakan “nikmat tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan” gumamku dalam hati.
Body akhirnya mendekati dermaga di desa kulingkinari yang sangat dipadati oleh masyarakat untuk menunggu belanjaannya dari kota, ada juga yang menjemput keluarganya karena tak ada kendaraan umum yang bisa digunakan. Mayoritas adalah para buruh yang akan mengangkat barang-barang dari dalam body. Beberapa dari mereka mulai berbisik sambil melihat saya dan kawan kawan sepenempatan ada juga yang tersenyum menyapa kami dan mengatakan “halo ibu”. Tak bisa tinggal berlama-lama di situ saya langsung dibonceng menuju area penempatanku. Hanya sekitar 10 menit dan kami sampai ke desa molowagu.
Terdapat dua opsi terkait rumah yang akan kami huni apakah kami akan tinggal bersama pemilik rumah seorang guru SDN 2 Molowagu atau kami menghuni rumah baru beliau yang masih kosong dengan syarat mengontrak rumah tersebut. Dari perundingan bersama dua teman maka diputuskan untuk tinggal sebulan bersama ibu guru tetapi setelah sebulan akan pindah ke rumah kosong dengan alasan akan merepotkan ibu guru.
Gambar air hujan yang sedang ditampung karena kekurangan air
Setelah beberapa minggu ditempat ini banyak hal baru yang saya alami. Hal pertama yang sangat mengagumkan yaitu harus berjalan sejauh beberapa KM untuk mendapatkan air tawar untuk mandi, mencuci, dan sebagai air minum itupun airnya masih sangat sedikit, Yang biasanya hanya buka kran dan langsung dapat air sekarang harus berusaha Extra untuk berjalan kaki. Kemudian menuruni 120 anak tangga ke air tersebut yang biasanya disebut dengan eskalator tanpa listrik dan menimba air sembari memandangi orang orang yang beramai ramai mandi, mencuci dan mengambil air ditempat tersebut. Biasanya hujan hanya sekedar menjadi fenomena alam di perkotaan, sekarang hujan menjadi berkah luar biasa untuk menghemat tenaga ke tempat air, I really love Rain now. Saya bisa menampung air sebanyak mungkin.
Selanjutnya hal yang harus saya terima dengan lapang dada yaitu tidak adanya sinyal kecuali saya harus pergi mendaki ke atas pohon beringin atau ke hutan hutan sejauh 8 km. Sinyal yang didapat di pulau ini adalah sinyal yang berasal dari ibukota abupaten Ampana di seberang lautan sana, berikutnya yaitu masalah listrik yang hanya menyala di malam hari. Maka semua alat elektronik hanya menyala di malam hari mulai dari handphone, laptop di charger pada malam hari juga, menyetrika pakaian dan khususnya bagi penjual penjual es harus mengoptimalkan di malam hari untuk mengisi kulkasnya. Terakhir adalah saya harus berinteraksi secara langsung dengan tetangga tetangga, masyarakat desa, pejabat pejabat RT, desa sampai kecamatan. Biasanya saya selalu ngomong asal asalan saja tetapi sekarang sudah harus memfilter apa saja yang tidak bermanfaat dari mulut.
Secara garis besar Batudaka sebenarnya tidak terlalu tertinggal dibandingkan daerah kepulauan lainnya karena batudakalah pulau berpenghuni terdekat dari kota. Akses ke kota sangatlah mudah kecuali jika ombak sedang besar. Ketimpangan pendidikan yang saya lihat adalah Kepulauan Togean sebagai bagian dari salah satu segitiga koral tercantik di Indoneasia yang setiap harinya banyak dikunjungi oleh bule mancanegara tidak menjadikan penduduk setempat untuk termotivasi menguasai bahasa inggris padahal mereka bisa memanfaatkan momen tersebut untuk menguasai bahasa inggris tanpa perlu kursus dan les ditempat yang mahal. Dari fenomena tersebut saya memutuskan untuk membuat sebuah English club bernama Touna English Club yang anggotanya adalah siswa-siswi kelas I dan kelas II SMAN 2 UNA-UNA.
Poin penting dari kegiatan TEC adalah bagaimana saya bisa memfasilitasi siswa untuk belajar bahasa inggris secara aplikatif. Saya mencoba membuat surat tertulis kepada salah satu bule yang merupakan seorang penyelam finlandia sekaligus pemilik cottage bomba diver. Dalam surat tersebut saya meminta kesediaan beliau beserta tamu bulenya meluangkan waktu untuk kegiatan cross culture understanding bersama peserta TEC untuk memajukan penguasaan bahasa asing siswa-siswi SMAN 2 UNA-UNA. Alhamdulillah surat yang saya buat dengan perasaan deg-degan karena takut ditolak tersebut bersambut baik. Kami disuruh datang pada hari sabtu sore ke cottage bomba diver.
“Don’t be late” itu yang harus kulakukan, karena orang barat terkenal disiplin. Kuinformasikan kepada seluruh siswa untuk berkumpul jam 3 sore depan rumah, kudatangi satu-satunya sopir mobil pick up di desa molowagu untuk mengantar kami ke desa bomba meskipun bayarannya lumayan mahal karena biasanya mobil tersebut digunakan untuk mengangkut kopra dan hasil kebun lainnya. Kusediakan uang pembeli solar untuk menyebrangkan peserta dari desa bomba ke cottage bomba diver dengan dua perahu katinting yang akan di kendarai oleh siswa sendiri. Peserta TEC sangatlah bahagia dengan kegiatan ini, saya melihat euphoria dalam diri mereka semua.
Gambar peserta TEC sebelum menyebrang ke cottage Bomba Diver
Gambar Peserta TEC mewawancarai Angel yang berasal dari Malaysia
Gambar Peserta TEC mewawancarai Pia, pemilik Cottage Bomba Diver
Gambar peserta TEC di ajar grammar bahasa inggris oleh Mike yang berasal dari Holland
Gambar seluruh peserta TEC bersama Pia, Angel, Mike dan Eli atau Suami pia dalam Kegiatan Cross Culture Understanding
Akhirnya kegiatan cross culture understanding tersebut terlaksana dengan sangat baik. Bule bule yang menjadi informan peserta TEC adalah pia dari finlandia, pemilik bomba diver sendiri. Ada mike dari Holland, dan angel dari Malaysia seorang pekerja kantoran. Mereka sangatlah welcome untuk sharing dengan peserta TEC. Terdapat nilai plus karena Awalnya hanya sekedar untuk melakukan cross culture understanding ternyata para bule menawarkan untuk mengajarkan grammar kepada peserta TEC.
Gambar peserta TEC mewawancarai Mr Dan Rasplicka, Ahli mesin asal Kanada di 2 pekan berikutnya.
Gambar peserta TEC mewawancarai pauline goense, researcher asal Netherland di 1 bulan berikutnya.
Kegiatan tersebut berlanjut disetiap sabtu, sore hari setelahnya jika cottage mengizinkan kami untuk mengambil bulenya untuk dijadikan informan dengan topic berbeda. Saya sangatlah bersyukur karena dengan adanya touna English club ini siswa-siswi SMAN 2 UNA-UNA menjadi tertarik untuk selalu mempelajari bahasa inggris, ini dibuktikan dengan seringnya mereka menggunakan bahasa inggris ketika bertemu dengan saya dan teman teman mereka, menyanyikan lagu bahasa inggris di waktu istirahat meskipun grammar yang mereka pakai masih belum sempurna dan beberapa vocabulary yang belum mereka ketahui. Semoga kegiatan ini akan terus dilanjutkan oleh peserta TEC yang telah saya latih untuk memanfaatkan situasi pariwisata yang kondusif bagi mereka belajar bahasa asing meskipun setahun kedepan saya sudah tidak bersama mereka lagi karena harus kembali ke Makassar. Semoga apa yang saya tanam akan tetap bersemi meskipun saya sudah tidak disana kelak.

No comments:
Post a Comment