Saturday, March 10, 2018

Tradisi yang Takkan Pernah Luntur

 Biodata
Nama : Ana Amelia Rizqia
TTL : Turen, 30 Agustus 1994
Prodi : Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Malang
Penugasan SM3T : Simeulue, Aceh

Saya Ana Amelia Rizqia seorang guru SM-3T angakatan VI yang bertugas di Kabupaten Simeulue Provinsi  Aceh. Kabupaten Simeulue ini banyak sekali memiliki tradisi yang menurut saya unik. Salah satunya adalah tradisi “lawatan”.
Acara penyambutan Lawatan
Apa yang terlintas dipikiranmu ketika mendengar istilah lawatan?

Lawatan adalah suatu tradisi yang sudah men­darah daging di daerah ini, yang bisa dikatakan tiada hari tanpa lawatan. Istilah lawatan di Simeulue merupakan kegiatan berkunjung ke dari dusun satu ke dusun lain, dari desa satu ke desa lainnya maupun dari sekolah ke sekolah lain yang bertujuan untuk bersilaturahmi dan memper­erat  tali persaudaraan antar sesama war­­­­­­­ga Simeulue.

Pesertanya berasal dari berbagai kalangan tanpa terkecuali mulai dari balita hingga kalangan tua. Jadi tidak mengejutkan bila rata-rata warga di Simeulue semuanya saling mengenal dan sudah meng­­­anggap sebagai saudara sendiri.


Penari adat
Acara dalam lawatan diawali dengan penyambut­an yang biasanya dilaksanakan pada siang hari, di mana warga yang berkunjung biasanya disebut tamu disambut dengan “Pengalungan”, kemudian mereka diantar ke tempat penyambut­­­­an dan di­­­­suguhkan tarian penyambutan khas Aceh yaitu tarian Ranup Lam Puan yang berarti sirih dalam batil (mangkuk).
Acara makan bersama
Setelah acara penyambutan selesai para tamu diajak untuk makan bersama yang hidanganya menurut saya “Wah”. Inaklan (ikan) yang berukurukan besar, Lakhoak (lobster) dan Lanai (kepiting) merupakan suguhan yang wajib dan spesial. Suasana makan yang hangat menambah nikmatya makan bersama di acara penyambutan tersebut.

Pada sore harinya diadakan acara tanding olahraga baik sepak bola maupun voli putra dan putri antar tuan rumah dan tamu. Semua yang ikut dalam acara lawatan yang ikut bermain atau tidak, sangat antusias dan senang dalam mengikuti acara yang dibuat. Para pemain bola voli sangat bersemangat untuk mendapatkan poin demi poin begitu juga dengan para penonton, mereka tak henti-hentinya berteriak untuk memberi semangat walupun pemainnya kalah sekalipun.

Setelah kegiatan tanding selesai pada malam harinya para tamu diberikan jamuan yang tak kalah “Wahnya” dengan hidangan makan siang. Semua jenis ikan dihidangkan tak lupa lobster yang berukuran besar-besar atau dalam bahasa Sigulainya “eba-eba” pun turut dihidangkan dalam acara makan malam.

Candaan menambah nikmatnya makan malam yang luar biasa. Kegiatan puncak dalam acara lawatan yaitu berkeyboard, semua peserta lawatan baik tua muda, laki-laki maupun perempuan menyumbangkan lagu dan bergoyang bersama. Hal inilah yang menyebabkan tak ada perbedaan tahta dan kasta.
Dekorasi tempat acara Lawatan
Semuanya sama yaitu orang Simeulue. Acara ini biasanya berahir sampai pukul 01.00 WIB dan pada pagi harinya dilakukan acara perpisahan sekaligus pemberian cindera mata dan tulisan sekapur sirih yang menandai bahwa acara lawatan selesai.

Dari sedikit kisah di atas kita dapat mengambil pembelajaran bahwa tak perlu acara yang mahal, namun dengan acara yang sederhana kita dapat memperat tali persaudaraan antar sesama warga.

Penulis : Ana Amelia Rizqia

No comments:

Post a Comment