Biodata
Nama : Surandari Saputri
TTL : Kebumen, 16 Juli 1993
Alamat : Karangwidara Rt 01/04 Ds.Tanjungmeru, Kec. Kutowinangun, Kab.Kebumen
Prodi :
Pendidikan Geografi
Penempatan SM-3T di Kab.Dompu, NTB
Selama 23 tahun hidup di dunia, baru tiga pulau yang saya
sambangi di antara ribuan pulau di negeri maritim ini, yaitu Jawa, Sumatera,
dan Bali. Dan kesempatan untuk menyambangi pulau keempat datang seiring dengan berhembusnya
kabar bahagia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam program Sarjana
Mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (SM-3T). Pulau Sumbawa,
tepatnya Kabupaten Dompu-NTB, menjadi tujuan saya selanjutnya disertai dengan
misi yang luar biasa, yaitu mencerdaskan anak bangsa.
Delapan kecamatan di Kabupaten Dompu memiliki pesona khas
Indonesia timur, termasuk di Kecamatan Kilo. Perbukitan dan birunya Laut Flores
menjadi batas yang mengelilingi Kecamatan Kilo. Perbukitan yang gundul langsung
menyapa siapa saja yang datang ke kecamatan ini. Namun jangan salah, bukit yang
gundul tersebut merupakan ladang jagung yang telah selesai panen dan akan
menghijau seiring dengan tumbuhnya pohon jagung.
Hal menarik lain dari
kecamatan ini adalah letaknya yang secara langsung berhadapan dengan bagian
timur Gunung Tambora yang pernah menunjukkan aksi maha dahsyatnya pada April
1815. Berpadu dengan tenangnya Teluk Sanggar, menambah kesyahduan senja di ufuk
barat.
Keindahan alam yang ada di Kecamatan Kilo menjadi hal yang
menyenangkan dan menenangkan hati siapa saja yang bermukim di sana. Namun,
ketika kita menilik perihal pendidikan dirasa sungguh sayang beribu sayang.
Kenyataan yang ada memberikan kesan yang berkebalikan dengan yang disuguhkan
alamnya.
Di Kecamatan Kilo terdapat 21 sekolah tingkat dasar, 10
sekolah tingkat menengah pertama, dan 4 sekolah tingkat menengah atas. Dengan
jumlah sekolah tersebut dipastikan kebutuhan pendidikan masyarakat Kecamatan
Kilo dapat terpenuhi. Pendidikan di Kilo adalah pendidikan tanpa biaya alias
gratis. Dari jenjang taman kanak-kanak hingga jenjang sekolah menengah atas,
peserta didik tidak dipungut biaya sepeser pun. Orang tua peserta didik hanya
diminta untuk mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah yang ada di dekat rumah
dan mempersiapkan seragam serta buku tulis putra-putrinya.
Biaya pendidikan yang gratis ternyata membuat para orang tua
terlena. Banyak dari mereka yang tidak mengutamakan pendidikan anak-anaknya.
Mereka hanya menitipkan anak mereka kepada sekolah, tanpa adanya kontrol kualitas.
Bahkan cenderung masa bodoh dan lebih mementingkan finansial keluarga ketimbang
pendidikan anak. Para orang tua kerap membawa anak mereka ke ladang jagung baik
pada masa tanam bibit, menjaga ladang, maupun di saat panen. Dan semua itu tetap
dilakukan sepanjang hari bahkan di hari-hari sekolah.
Pembayaran gaji guru honorer yang hanya bersumber dari dana BOS, mengharuskan guru honorer pandai-pandai memutar otak untuk menghemat sekaligus mendapatkan pemasukan yang lebih banyak. Dan cara yang mereka tempuh adalah bekerja di ladang jagung. Iming-iming upah yang menjanjikan (Rp 50.000 – Rp 70.000 / hari) telah berhasil menggiring guru-guru untuk meninggalkan jam belajar mengajarnya di kelas dan beralih ke tanam menanam di ladang.
Namun tidak semua orang tua di Kecamatan Kilo menutup
pikirannya mengenai perkembangan pendidikan anaknya. Tidak semua guru di
Kecamatan Kilo lebih senang berada di ladang daripada di kelas. Masih ada orang
tua yang peduli bagaimana dan ilmu apa saja yang didapa anaknya di sekolah.
Masih ada guru yang dengan semangat 45-nya membelah bukit dan menyusuri pantai
hanya demi datang tepat waktu di kelas jam pertamanya. Bukan hal yang mudah,
namun bukan pula hal yang mustahil untuk menjadi berbeda dari yang lain dalam
hal kebenaran. Orang-orang tersebutlah yang sebenarnya menjadi pahlawan di
Kecamatan Kilo. Begitu pedulinya pada pendidikan generasi penerus, hingga tak
akan membutakan diri terhadap apa yang terjadi.





No comments:
Post a Comment