Biodata
Nama : Ella Puspitasari ( Ella)
TTL : Pangkalanbun, 19 April 1994
Alamat : Dsn krajan 1 rt 04 rw 01 desa gambiran kec. gambiran kab. banyuwangi
Prodi : Pendidikan Fisika
Penempatan SM-3T: Morowali Utara
Sudah satu tahun berselang namun
pernyataan ini masih saja melekat di benakku.
Betapa tidak, pasalnya yang semula saya hanyalah anak rumahan kini harus
merantau. Tidak tanggung-tanggung saya harus mengepakkan sayap keluar Jawa yaitu
ke pulau K. Desa Petumbea, Kecamatan Lembo Raya, Kabupaten Morowali Utara,
Provinsi Sulawesi Tengah. Sungguh diluar angan-anganku. Disinilah cerita baru
dimulai.
Kabupaten Morowali Utara secara umum masyarakatnya
adalah Suku Mori, sedangkan tempat yang kami tinggal didiami oleh Suku Tuwatu
yang merupakan anak suku dari Suku Mori. Lain ladang lain belalang, lain lubuk
lain ikannya, begitulah pepatah mengatakan. yang berarti tiap tempat memiliki budaya atau
ciri khas masing-masing tidak terkecuali dengan desa yang kutinggali. Mulai
dari adat pernikahan, makanan khas, hingga kesenian tradisionalnya.
![]() |
Pesta
pernikahan masyarakat Mori kami rasa sangatlah unik. Pengantin harus melalui 2
prosesi nikah, yaitu nikah adat dan nikah agama/hukum. Pada pernikahan adat,
kedua pengantin duduk di pelaminan bersama kedua orang tua masing-masing. Tidak
hanya itu, mereka juga didampingi oleh pemangku adat, kepala desa, kepala
dusun, serta beberapa sanak saudara. Pernikahan dilakukan dengan makan sirih
pinang dan minum di gelas bambu. Selain itu, ada pengantin pria juga memberikan
beberapa potong sarung kepada pengantin wanita serta ketua adat. Selama proses
pernikahan adat berlangsung, tamu undangan mengikutinya dengan khitmat sampai
acara selesai. Setelah itu, acara ditutup dengan doa dan makan bersama dengan
menu ‘Kaledo’, yaitu sup daging
sapi yang ditambah singkong, serta ‘Burasa’ yaitu nasi yang dibungkus daun, kalau di Jawa
bisa disebut dengan lontong.
![]() |
| Resepsi Pernikahan |
Tidak lengkap
rasanya pergi ke suatu daerah tanpa mencicipi makanan khasnya. Beberapa makanan
yang pernah kami cicipi antara lain Coto Makassar, Kaledo, Sop Konro, yang rasanya
Aduhaaaaii. Namun satu lagi yang tidak pernah kami lupakan adalah makan ‘Dui’
atau sagu yang dimakan dengan kuah ikan Boto-boto dimasak asin. Ada juga
makanan yang
sangat kami sukai, yaitu ‘Binte’, sup jagung Pulut yang direbus dengan ikan
sampai hancur yang makannya ditambah lemon dan minyak goreng serta bawang
goreng, Yummmmiii... sedaap.
![]() |
| Binte |
“Mari jo ibu pi ba dero!” (mari ibu pergi Dero), seru salah satu
murid kami bernama Fahri. Dero adalah tari kesenian khas Suku Mori, di mana tari ini sering
ditampilkan saat acara pernikahan atau hajatan. Dero umumnya dilakukan pada
malam hari, penarinya adalah masyarakat setempat dengan mengenakan pakaian
sehari-hari. Dero dilakukan dengan bergandengan tangan membentuk lingkaran dan
berputar-putar sambil mengayunkan tangan dan kaki mengikuti iringan musik
elekton dan penyanyinya. Menurut masyarakat setempat dero ini dianggap sebagai sarana
pemersatu masyarakat mulai dari laki-laki perempuan, tua muda, dan berbagai
kalangan masyarakat. Kalau menurut saya pribadi dero ini bak candu yang tidak
ada hentinya. Sekalipun berhenti hawanya pingin ikut ba goyang. Tarian ini yang
teramat saya rindukan ketika pulang ke Jawa.
![]() |
| Dero |
-Salam
Tana Mori-





No comments:
Post a Comment