Thursday, February 22, 2018

Potret Kekayaan Budaya Tana Mori


Biodata
Nama    : Ella Puspitasari ( Ella)
TTL       : Pangkalanbun, 19 April 1994
Alamat   : Dsn krajan 1 rt 04 rw 01 desa gambiran kec. gambiran kab. banyuwangi
Prodi      : Pendidikan Fisika
Penempatan SM-3T: Morowali Utara

Sudah satu tahun berselang namun  pernyataan ini masih saja melekat di benakku. Betapa tidak, pasalnya yang semula saya hanyalah anak rumahan kini harus merantau. Tidak tanggung-tanggung saya harus mengepakkan sayap keluar Jawa yaitu ke pulau K. Desa Petumbea, Kecamatan Lembo Raya, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah. Sungguh diluar angan-anganku. Disinilah cerita baru dimulai.

Kabupaten Morowali Utara secara umum masyarakatnya adalah Suku Mori, sedangkan tempat yang kami tinggal didiami oleh Suku Tuwatu yang merupakan anak suku dari Suku Mori. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, begitulah pepatah mengatakan. yang berarti tiap tempat memiliki budaya atau ciri khas masing-masing tidak terkecuali dengan desa yang kutinggali. Mulai dari adat pernikahan, makanan khas, hingga kesenian tradisionalnya.

Pesta pernikahan masyarakat Mori kami rasa sangatlah unik. Pengantin harus melalui 2 prosesi nikah, yaitu nikah adat dan nikah agama/hukum. Pada pernikahan adat, kedua pengantin duduk di pelaminan bersama kedua orang tua masing-masing. Tidak hanya itu, mereka juga didampingi oleh pemangku adat, kepala desa, kepala dusun, serta beberapa sanak saudara. Pernikahan dilakukan dengan makan sirih pinang dan minum di gelas bambu. Selain itu, ada pengantin pria juga memberikan beberapa potong sarung kepada pengantin wanita serta ketua adat. Selama proses pernikahan adat berlangsung, tamu undangan mengikutinya dengan khitmat sampai acara selesai. Setelah itu, acara ditutup dengan doa dan makan bersama dengan menu ‘Kaledo’, yaitu sup daging sapi yang ditambah singkong, serta ‘Burasa’ yaitu nasi yang dibungkus daun, kalau di Jawa bisa disebut dengan lontong.

Resepsi Pernikahan
Tidak lengkap rasanya pergi ke suatu daerah tanpa mencicipi makanan khasnya. Beberapa makanan yang pernah kami cicipi antara lain Coto Makassar, Kaledo, Sop Konro, yang rasanya Aduhaaaaii. Namun satu lagi yang tidak pernah kami lupakan adalah makan ‘Dui’ atau sagu yang dimakan dengan kuah ikan Boto-boto dimasak asin. Ada juga makanan yang sangat kami sukai, yaitu ‘Binte’, sup jagung Pulut yang direbus dengan ikan sampai hancur yang makannya ditambah lemon dan minyak goreng serta bawang goreng, Yummmmiii... sedaap.
Binte
 Mari jo ibu pi ba dero!” (mari ibu pergi Dero), seru salah satu murid kami bernama Fahri. Dero adalah tari kesenian khas Suku Mori, di mana tari ini sering ditampilkan saat acara pernikahan atau hajatan. Dero umumnya dilakukan pada malam hari, penarinya adalah masyarakat setempat dengan mengenakan pakaian sehari-hari. Dero dilakukan dengan bergandengan tangan membentuk lingkaran dan berputar-putar sambil mengayunkan tangan dan kaki mengikuti iringan musik elekton dan penyanyinya. Menurut masyarakat setempat dero ini dianggap sebagai sarana pemersatu masyarakat mulai dari laki-laki perempuan, tua muda, dan berbagai kalangan masyarakat. Kalau menurut saya pribadi dero ini bak candu yang tidak ada hentinya. Sekalipun berhenti hawanya pingin ikut ba goyang. Tarian ini yang teramat saya rindukan ketika pulang ke Jawa.

Dero

-Salam Tana Mori-

No comments:

Post a Comment