Wednesday, February 21, 2018

Jempol Penawan Hati

 BIODATA


Nama    : Rofiatu Amalia Arifin ( Rofi)
TTL        : Kediri, 23 Januari 1994
Alamat : Perum Jombangan Asri No. 1/G Pare, Kediri – Jawa Timur
Prodi      : Pendidikan Fisika
Penempatan SM-3T: Simeulue, Provinsi Aceh








Masih teringat dengan jelas di benak saya bagaimana senyum murid-murid saya yang selalu menyapa di setiap pagi. Iya, saya adalah salah satu guru SM-3T yang bertugas di SMP Negeri 3 Simeulue Barat. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, bahwa setiap pagi murid-murid memang dengan ramah selalu menyapa saya. Dengan ceria dan tanpa beban mereka selalu menyapa saya di sepanjang jalan berangkat ke sekolah. Di SMP Negeri 3 Simeulue Barat, saya bertugas sebagai guru Bahasa inggris di kelas VII dan IX. Namun selain itu, kami guru SM-3T juga bertugas untuk menunjang kegiatan di sekolah.

Saat itu minggu ke dua saya ditempat pengabdian. Dikarenakan beberapa hal, ada sejumlah guru yang tidak dapat mengikuti KBM di sekolah. Sebagai guru SM-3T saya diberi tugas untuk mengganti jam guru tersebut, di saat itu kebetulan saya tidak ada jam mengajar jadi sekalian mengisi waktu kosong. Hal ini sering saya lakukan saat beberapa guru tidak dapat hadir. Saat itu saya masuk di kelas VIII-2 untuk pelajaran Matematika. Karena saya tidak pernah masuk di kelas ini sebelumnya, maka membuat para murid sedikit heran. 

Selama pembelajaran berlangsung, entah mengapa tak sengaja mata saya teruju pada salah satu murid. Pandangan itu sesekali terpaku hanya padanya. Salmarisa, iya itu namanya. Dengan senyum penuh semangatnya dia mengikuti pembelajaran. Namun, yang membuat saya terpaku padanya selain pada senyuman yaitu pada jempol kakinya. Hati serasa tertusuk ketika melihat dia memakai sepatu yang telah koyak, sehingga ujung jempol kaki sebelah kanan keluar dari sepatu tersebut. Sungguh sangat hal yang disayangkan karena melihat dia yang bersemangat sekolah namun sepatunya seakan sudah tak bisa mengimbangi. 

Kenapa orang tuanya membiarkan sepatu anaknya yang telah koyak tetap dipakai sekolah? Kemana mereka? Kenapa sebagai orang tua mereka tidak mendukung kebutuhan anaknya untuk bersekolah? Serentetan pertanyaan itu, selalu mengganggu saya. Karena hal itu saya mencoba mencari latar belakang keluarganya dengan bantuan beberapa orang murid dan guru. Dari beberapa informasi saya hanya mengetahui bahwa kedua orang tuanya telah berpisah. Informasi yang saya dapatkan, cukup menjawab beberapa pertanyaan. Namun, muncul lagi pertanyaan di benak saya, kenapa perpisahan orang tua membuatnya menjadi tidak diperhatikan masalah sekolah. 

Hari demi hari telah berlalu dan hati saya rasaya semakin teriris ketika melihat dia berjalan. Untuk mengobati kegelisahan hati saya, saya sadar bahwa akan percuma jika hanya dipikirkan dan sibuk dengan berbagai pertanyaan tanpa ada tindakan nyata. Akhirnya saya memutuskan untuk membantunya. Pada saat itu juga, saya berjanji pada diri saya untuk menggunakan gaji pertama saya untuk membelikannya sepatu. Hal ini harus saya lakukan dengan hati-hati, karena saya tidak mau murid lain mengetahuinya sehingga akan menimbulkan kecemburuan. Beberapa minggu kemudian setelah gaji pertama keluar, saya pergi ke kota untuk membeli sepasang sepatu. 

Saat hari sekolah saya memintanya untuk menemui saya saat jam istirahat. Saat bel istirahat berbunyi, datanglah dia menuju ke kantor dengan wajah ketakutan. Iya, dia berpikir bahwa saya akan menghukumnya karena sesuatu hal. Kemudian kami duduk bersebelahan dan mulai perbincangan yang ringan. Setelah beberapa perbincangan saya mulai menanyakan hal yang pribadi, kenapa sepatunya seperti itu, kenapa jempolnya terlihat. Beberapa pertanyaan tersebut membuat dia tertunduk malu. Untuk menghiburnya, dengan memberikan sedikit senyuman saya mengulurkan sepasang sepatu baru miliknya. Melihat saya memberikannya sepatu betapa bahagianya dia. wajah yang tertunduk malu pun berubah menjadi tangis bahagia. Alhamdulillah sepatu baru !!


Selang beberapa hari, saya memanggilnya kembali menuju kantor. Kini betapa senangnya saya ketika melihatnya berlari menuju saya dengan senyum ceria dan tak lagi dengan jempol yang mengintip diantara sepatunya. Kini sepatunya telah mampu mengimbangi semangat belajarnya. Seperti biasanya, kami duduk bersebelahan. Kini perbincangan kami lebih pribadi, dia mulai nyaman dan menceritakan latar belakang keluarganya. Iya, orangtuanya memang telah berpisah dan dia kini tinggal bersama ayahnya. Keterbatasan ekonomi yang membuat ayahnya tidak dapat membelikannya sepatu. Ayahnya yang selalu sibuk bekerja, membuatnya harus mengerjakan semua pekerjaan rumahnya mulai dari memasak dan menjaga adiknya. Bahkan kadang dia harus bolos sekolah karena membantu ayahnya menjual hasil kebun mereka.

 
Salmarisaku (Paling Kanan)
Semua cerita itu seakan menjadi tamparan keras bagi saya yang kadang kurang bersyukur dan suka mengeluh dengan keadaan sekarang. Salmarisa, terimakasih telah memberikan ibu pembelajaran hidup melalui jempol indahmu. Tetaplah dengan senyum ceriamu, ukir mimpi indahmu untuk menyatukan keluargamu lagi. semoga sepatu sederhana itu bisa membantumu. Iya, dia akan selalu menjadi Salmarisa, murid ibu dengan jempol penawan hatiku.

nilah cerita pendekku dengan seorang murid yang luar biasa. Dan betapa besar nikmat yang telah Tuhan berikan dengan mempertemukan saya bukan hanya satu namun ratusan murid dengan semangat yang luar biasa. Iya, mereka guru ku untuk belajar tetap bersemangat dalam keterbatasan dan tak pernah takut bermimpi.  Belajar bukan melulu tetang rumus dan teori, namun juga tentang kehidupan. Semoga jempol jempol mereka selalu senantiasa menyeimbangi semangatnya.





by : Rofi 



1 comment: