BIODATA
Semua cerita itu seakan menjadi tamparan keras
bagi saya yang kadang kurang bersyukur dan suka mengeluh dengan keadaan
sekarang. Salmarisa, terimakasih telah memberikan ibu pembelajaran hidup
melalui jempol indahmu. Tetaplah dengan senyum ceriamu, ukir mimpi indahmu
untuk menyatukan keluargamu lagi. semoga sepatu sederhana itu bisa membantumu. Iya,
dia akan selalu menjadi Salmarisa, murid ibu dengan jempol penawan hatiku.
Nama :
Rofiatu Amalia Arifin ( Rofi)
TTL : Kediri, 23 Januari 1994
Alamat :
Perum Jombangan Asri No. 1/G Pare, Kediri – Jawa Timur
Prodi : Pendidikan Fisika
Penempatan
SM-3T: Simeulue, Provinsi Aceh
Masih teringat
dengan jelas di benak saya bagaimana senyum murid-murid saya
yang selalu menyapa di setiap pagi. Iya, saya adalah salah satu guru SM-3T yang
bertugas di SMP Negeri 3 Simeulue Barat. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya,
bahwa setiap pagi murid-murid memang dengan ramah selalu menyapa saya. Dengan
ceria dan tanpa beban mereka selalu menyapa saya di sepanjang jalan berangkat
ke sekolah. Di SMP Negeri 3 Simeulue Barat, saya bertugas sebagai guru Bahasa
inggris di kelas VII dan IX. Namun selain itu, kami guru SM-3T juga bertugas
untuk menunjang kegiatan di sekolah.
Saat itu
minggu ke dua saya ditempat pengabdian. Dikarenakan beberapa hal, ada sejumlah guru
yang tidak dapat mengikuti KBM di sekolah. Sebagai guru SM-3T saya diberi tugas
untuk mengganti jam guru tersebut, di saat itu
kebetulan saya tidak ada jam mengajar jadi sekalian mengisi waktu kosong. Hal
ini sering saya lakukan saat beberapa guru tidak dapat hadir. Saat itu saya
masuk di kelas VIII-2 untuk pelajaran Matematika. Karena saya tidak pernah
masuk di kelas ini sebelumnya, maka membuat para
murid sedikit heran.
Selama
pembelajaran berlangsung, entah mengapa tak sengaja mata saya teruju pada salah
satu murid. Pandangan itu sesekali terpaku hanya padanya. Salmarisa, iya itu
namanya. Dengan senyum penuh semangatnya dia mengikuti pembelajaran. Namun,
yang membuat saya terpaku padanya selain pada senyuman yaitu pada jempol
kakinya. Hati serasa tertusuk ketika melihat dia memakai sepatu yang telah
koyak, sehingga ujung jempol kaki sebelah kanan keluar dari sepatu tersebut.
Sungguh sangat hal yang disayangkan karena melihat dia yang bersemangat sekolah
namun sepatunya seakan sudah tak bisa mengimbangi.
Kenapa orang
tuanya membiarkan sepatu anaknya yang telah koyak tetap dipakai sekolah? Kemana
mereka? Kenapa sebagai orang tua mereka tidak mendukung kebutuhan anaknya untuk
bersekolah? Serentetan pertanyaan itu, selalu mengganggu saya. Karena hal itu
saya mencoba mencari latar belakang keluarganya dengan bantuan beberapa orang
murid dan guru. Dari beberapa informasi saya hanya mengetahui bahwa kedua orang
tuanya telah berpisah. Informasi yang saya dapatkan, cukup menjawab beberapa
pertanyaan. Namun, muncul lagi pertanyaan di benak saya,
kenapa perpisahan orang tua membuatnya menjadi tidak diperhatikan masalah sekolah.
Hari demi hari
telah berlalu dan hati saya rasaya semakin teriris ketika melihat dia berjalan.
Untuk mengobati kegelisahan hati saya, saya sadar bahwa akan percuma jika hanya
dipikirkan dan sibuk dengan berbagai pertanyaan tanpa ada tindakan nyata. Akhirnya
saya memutuskan untuk membantunya. Pada saat itu juga, saya berjanji pada diri
saya untuk menggunakan gaji pertama saya untuk membelikannya sepatu. Hal ini
harus saya lakukan dengan hati-hati, karena saya tidak mau murid lain mengetahuinya
sehingga akan menimbulkan kecemburuan. Beberapa minggu kemudian setelah gaji
pertama keluar, saya pergi ke kota untuk membeli sepasang sepatu.
Saat hari
sekolah saya memintanya untuk menemui saya saat jam istirahat. Saat bel
istirahat berbunyi, datanglah dia menuju ke kantor dengan wajah ketakutan. Iya,
dia berpikir bahwa saya akan menghukumnya karena sesuatu hal. Kemudian kami
duduk bersebelahan dan mulai perbincangan yang ringan. Setelah beberapa
perbincangan saya mulai menanyakan hal yang pribadi, kenapa sepatunya seperti
itu, kenapa jempolnya terlihat. Beberapa pertanyaan tersebut membuat dia
tertunduk malu. Untuk menghiburnya, dengan memberikan sedikit senyuman saya
mengulurkan sepasang sepatu baru miliknya. Melihat saya memberikannya sepatu
betapa bahagianya dia. wajah yang tertunduk malu pun berubah menjadi tangis
bahagia. Alhamdulillah sepatu baru !!
Selang
beberapa hari, saya memanggilnya kembali menuju kantor. Kini betapa senangnya
saya ketika melihatnya berlari menuju saya dengan senyum ceria dan tak lagi
dengan jempol yang mengintip diantara sepatunya. Kini sepatunya telah mampu mengimbangi semangat belajarnya.
Seperti biasanya, kami duduk bersebelahan. Kini perbincangan kami lebih
pribadi, dia mulai nyaman dan menceritakan latar belakang keluarganya. Iya,
orangtuanya memang telah berpisah dan dia kini tinggal bersama ayahnya.
Keterbatasan ekonomi yang membuat ayahnya tidak dapat membelikannya sepatu.
Ayahnya yang selalu sibuk bekerja, membuatnya harus mengerjakan semua pekerjaan
rumahnya mulai dari memasak dan menjaga adiknya. Bahkan kadang dia harus bolos
sekolah karena membantu ayahnya menjual hasil kebun mereka.
![]() |
| Salmarisaku (Paling Kanan) |
nilah cerita pendekku
dengan seorang murid yang luar biasa. Dan betapa besar nikmat yang telah Tuhan
berikan dengan mempertemukan saya bukan hanya satu namun ratusan murid dengan
semangat yang luar biasa. Iya, mereka guru ku untuk belajar tetap bersemangat
dalam keterbatasan dan tak pernah takut bermimpi. Belajar bukan melulu tetang rumus dan teori,
namun juga tentang kehidupan. Semoga jempol jempol mereka selalu senantiasa
menyeimbangi semangatnya.
by : Rofi


I love this story. so touching
ReplyDelete