BIODATA
Nama : Asfiainnisa’, S.Pd
Nama Panggilan : Nisa'
Alamat : Gending Kab.Probolinggo, Jawa Timur.
LPTK SM-3T : Universitas Negeri Malang
Penempatan SM-3T : Distrik Bime, Kabupaten
Pegunungan Bintang, Papua.
Unit Tugas : SMP Negeri Bime
SD Inpres Atembabol Bime
E-mail : asfiainnisa21@gmail.com
Bukan bualan semata dengan lagu Papua yang dinyanyikan Edo Kondologit, “tanah Papua, tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke Bumi”, memang cocok untuk menggambarkan tanah Papua, terlebih lagi daerah distrik Bime yang merupakan salah satu distrik di kabupaten Pegunungan Bintang. Kekayaan alam, kekayaan budaya, dan keramahan penduduk adalah suatu kelebihan tersendiri yang dimiliki Bime. Berikut potret gambaran keindahan alam dan kebudayaan warga di sana,
Gambar1. Keadaan Alam dan Budaya di Bime
Antara Bime dengan kota Jayapura terbentang luas gunung, bukit, hutan dan sungai sehingga untuk mencapai Bime dari kota Jayapura hanya dapat dilakukan dengan menggunakan pesawat perintis sebab akses untuk jalan transportasi seperti sepeda motor dan mobil belum ada sehingga pesawat adalah alat transportasi satu satunya yang dapat digunakan untuk mencapai Bime.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Bime, tak terlintas sama sekali di benakku kalau kita nanti akan disambut oleh senyuman ceria para siswa dan keramahan hangat masyarakat di sana. Semua warga antusias menyapa dan menyalami kami. “ Ibu guru su datang”, “Ibu guru SM-3T sudah datang lagi” begitulah teriakan anak–anak Bime memenuhi suasana di bandara saat itu. Dari bandara, kita langsung menuju asrama SMP Negeri Bime yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 1 tahun pengabdian. Semua barang–barang kami diangkut dan dibantu oleh masyarakat dan siswa. Perjalanan dari bandara menuju ke asrama ditempuh selama kurang lebih 15 menit dengan jalan kaki. Kenapa jalan kaki? itu jelas, karena di Bime satu-satunya transportasi adalah kedua kaki kita sendiri.
Terbatasnya akses transportasi bukan salah satu alasan menempatkan distrik Bime sebagai daerah 3T tetapi sinyal telekomunikasi juga tidak ada. Jangankan sinyal 4G, sinyal 2G pun belum ada. Jadi handphone yang kita bawa tidak berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi sebagai media hiburan seperti mendengarkan musik dan mengambil foto. Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi kenyamanan warga maupun kita sebagai pendatang untuk menikmati kehidupan karena masih banyak hal positif yang terdapat di Bime seperti udara yang segar, air yang bersih dan melimpah, tanah yang subur dan pemandangan yang indah serta menarik.
Jika membicarakan siswa siswi Bime tiada habisnya. Siswa–siswi yang bersekolah di SD Inpres Atembabol Bime dan SMPN Bime tidak hanya berasal dari kampung Bime dan Turweh yang dekat dengan sekolah tetapi juga berasal dari 10 kampung yang berada di distrik Bime bahkan ada yang berasal dari distrik lain seperti Tanime. Mereka adalah siswa yang kuat, itu jelas terlihat ketika mereka berangkat sekolah harus berjalan kaki cukup jauh dengan medan yang sulit, seperti jalan yang dipenuhi dengan batu apalagi ketika hujan, jalan akan penuh lumpur dan licin. Tidak sedikit, siswa yang harus melewati satu sampai dua bukit serta jembatan yang licin dan penuh lubang karena sudah lapuk terkikis air hujan.
Siswa – siswi Bime, mereka adalah siswa yang penuh semangat. Setiap hari, mereka datang ke sekolah penuh dengan semangat untuk menerima ilmu, penuh semangat untuk berbagi senyuman dengan kami, penuh semangat untuk berbagi cerita dengan kami, dan penuh semangat untuk menerima tugas dari kami. Semangat mereka sangat terlihat ketika mendapat tugas sekolah, banyak dari mereka langsung mengerjakan tugas tersebut dan ingin segera dinilai. “Ayo ibu guru, jangan PR sudah. Kita kerjakan sekarang terus langsung beri nilai sudah”, kata-kata itu sering mereka ucapkan ketika mendapat pekerjaan rumah, sehingga semakin banyak lagi waktu yang kita habiskan di sekolah, walaupun masih ada siswa yang keberatan. Keberadaan kami sebagai guru di sana sangat mereka gunakan, karena keberadaan seorang guru di sana adalah sebuah anugerah. Sangat jarang ada guru lokal yang membantu di sekolah terutama di tingkat SMP yang hanya ada kepala sekolah saja. Hal ini sudah lumrah, karena banyak guru yang sudah diangkat sebagai pegawai negeri tidak berada di tempat tugas.
Siswa-siswi Bime, mereka adalah siswa yang sangat menyanjung dan menghormati guru. Setiap kali bertemu dengan kami guru, mereka akan menyapa “selamat pagi ibu guru, telebe” , “selamat pagi bapak guru, telebe”. “telebe” adalah kata sapaan bagi warga Bime. Kami mengajarkan kepada mereka cara berjabat tangan dengan orang yang lebih tua, mereka langsung menerapkannya sehingga selain menyapa kita dengan sapaan selamat pagi, mereka akan menjabat tangan kita. Ketika kami berjalan-jalan menuju kampung- kampung sambil membawa sesuatu, mereka yang melihat kami akan langsung bilang “Ibu guru itu berat, sini kita yang bawa”, “ibu guru hati-hati jalannya e! nanti jatuh” , “ibu guru sudah, jangan terlalu banyak jalan, nanti capek e!”. Mereka sangat menghormati guru, kata – kata jorok, hina dan jelek tidak pernah kami dapatkan dari mereka. Bahkan tidak jarang saat kita berkunjung ke rumah warga, kita selalu diberi hasil kebun seperti singkong, ubi, dan sayuran.
Selama mengabdi, kami bertempat tinggal di asrama sekolah. Ada anak-anak asrama yang menemani kita. Mereka adalah anak-anak yang tangguh, sangat menghormati dan menyayangi kami. Semua anak asrama adalah perempuan yang jumlahnya 6 anak, namanya Merita Wasini, Nudena Keduman, Artepina Trukna, Sitta Wasini, Yontilina Wasini dan Monika Keduman. Mereka sering membantu kami memasak, menata kayu bakar di dapur dan tidak jarang selalu membawa tawa dan senyum dengan cerita mereka yang lucu dan polos. Suatu hari, saya dan kedua teman guru SM3T sakit, jadi kami tidak bisa masak ataupun melakukan aktivitas lain. Mereka dengan senang hati dan penuh cinta membantu dan merawat kami. Mendoakan kami sambil menangis di dekat kami. “ sudah anak, jangan menangis, nanti saya ikut menangis” bilangku pada mereka dan mereka menjawab sambil memijatku “makanya ibu Nisa, cepat sembuh sudah,,, kemudian bermain-main dan belajar bersama lagi!”. Bahkan para pendeta, kepala desa dan warga setempat ikut mendoakan untuk kesembuhan kami. Sungguh, ini pengalaman pertamaku mendapatkan perhatian yang sangat luar biasa, perhatian yang tulus dan perhatian yang penuh cinta dari siswa dan seluruh masyarakat Bime. Jika kugambarkan, mereka bagaikan perawat yang profesional.
Berbicara mengenai siswa tidak lepas berbicara mengenai kemampuan dan minatnya terhadap belajar. Afrianus Sikwa adalah salah satu siswaku di kelas VIII SMPN Bime. Dia sangat antusias sekali dalam belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dia paling suka dengan pelajaran IPA dan Matematika, kebetulan sekali, saya mengajar kedua mata pelajaran itu. Dia sangat suka sekali berhitung, kemampuan berhitungnya cukup cepat walaupun terkadang kurang teliti. Sering kali, dia minta tugas sendiri di luar jam pelajaran dan bertanya mengenai pelajaran sehingga tidak jarang pula saya memberi tambahan pelajaran untuk dia. “ ibu Nisa, cepat dilihat sudah saya pu tugas, banyak yang salahkah?’ kata-kata itu menjadi tidak asing bagiku ketika dia sudah menyelesaikan tugasnya. Semangatnya untuk terus belajar merupakan kepuasan tersendiri bagiku, tak lelah tangan dan pikiran ini saat mengecek hasil pekerjaannya.
Bahkan, saya sering dibuat kagum olehnya. Suatu hari, saya memberikan pelajaran IPA yaitu menghitung usaha melalui perubahan energi potensial dan energi kinetik, pelajaran ini bagi murid sangat sulit dan banyak yang menyerah untuk mengerjakan soal tersebut. Namun, tidak berlaku kata menyerah di diri seorang Afrianus Sikwa. Awalnya dia merasa sangat sulit materi ini tetapi dia tetap sering mencoba mengerjakan soal soal yang berkaitan dengan materi tersebut. Dia sering bilang “ibu guru, saya ingin soal itu lagi, saya ingin bisa dan harus bisa mengerjakannya” , dengan senyuman bahagia kubalas dengan berkata “ e tentu anakku, ibu guru beri 1000 soal pun sanggup!” dia pun berkata sambil tertawa “Hei, ibu guru kalau 1000 soal, saya yang tidak sanggup!”.
Sebenarnya materi tersebut mudah dipahami namun siswa – siswa kurang teliti dan telaten. Afrianus memiliki cita-cita untuk menjadi guru. Dia selalu berharap dapat menjadi guru yang siap mengemban tugas. Dia bilang “ saya mau jadi guru yang selalu ada buat anak murid bu” “ saya ingin membantu anak-anak di Bime tidak kesulitan belajar hanya karena tidak ada guru”.
Kata-kata itu sangat menyentuh sekali apalagi dikatakan oleh seorang anak yang polos. Dia terus semangat belajar untuk meraih cita-citanya menjadi seorang guru. Sebuah harapan yang selalu dia doakan untuk menjadi kenyataan. “tetap berjuang nak, terus berusaha, berdoa dan semangat” kata-kata ini terus saya katakan padanya.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Bime, tak terlintas sama sekali di benakku kalau kita nanti akan disambut oleh senyuman ceria para siswa dan keramahan hangat masyarakat di sana. Semua warga antusias menyapa dan menyalami kami. “ Ibu guru su datang”, “Ibu guru SM-3T sudah datang lagi” begitulah teriakan anak–anak Bime memenuhi suasana di bandara saat itu. Dari bandara, kita langsung menuju asrama SMP Negeri Bime yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 1 tahun pengabdian. Semua barang–barang kami diangkut dan dibantu oleh masyarakat dan siswa. Perjalanan dari bandara menuju ke asrama ditempuh selama kurang lebih 15 menit dengan jalan kaki. Kenapa jalan kaki? itu jelas, karena di Bime satu-satunya transportasi adalah kedua kaki kita sendiri.
Terbatasnya akses transportasi bukan salah satu alasan menempatkan distrik Bime sebagai daerah 3T tetapi sinyal telekomunikasi juga tidak ada. Jangankan sinyal 4G, sinyal 2G pun belum ada. Jadi handphone yang kita bawa tidak berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi sebagai media hiburan seperti mendengarkan musik dan mengambil foto. Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi kenyamanan warga maupun kita sebagai pendatang untuk menikmati kehidupan karena masih banyak hal positif yang terdapat di Bime seperti udara yang segar, air yang bersih dan melimpah, tanah yang subur dan pemandangan yang indah serta menarik.
Jika membicarakan siswa siswi Bime tiada habisnya. Siswa–siswi yang bersekolah di SD Inpres Atembabol Bime dan SMPN Bime tidak hanya berasal dari kampung Bime dan Turweh yang dekat dengan sekolah tetapi juga berasal dari 10 kampung yang berada di distrik Bime bahkan ada yang berasal dari distrik lain seperti Tanime. Mereka adalah siswa yang kuat, itu jelas terlihat ketika mereka berangkat sekolah harus berjalan kaki cukup jauh dengan medan yang sulit, seperti jalan yang dipenuhi dengan batu apalagi ketika hujan, jalan akan penuh lumpur dan licin. Tidak sedikit, siswa yang harus melewati satu sampai dua bukit serta jembatan yang licin dan penuh lubang karena sudah lapuk terkikis air hujan.
Siswa – siswi Bime, mereka adalah siswa yang penuh semangat. Setiap hari, mereka datang ke sekolah penuh dengan semangat untuk menerima ilmu, penuh semangat untuk berbagi senyuman dengan kami, penuh semangat untuk berbagi cerita dengan kami, dan penuh semangat untuk menerima tugas dari kami. Semangat mereka sangat terlihat ketika mendapat tugas sekolah, banyak dari mereka langsung mengerjakan tugas tersebut dan ingin segera dinilai. “Ayo ibu guru, jangan PR sudah. Kita kerjakan sekarang terus langsung beri nilai sudah”, kata-kata itu sering mereka ucapkan ketika mendapat pekerjaan rumah, sehingga semakin banyak lagi waktu yang kita habiskan di sekolah, walaupun masih ada siswa yang keberatan. Keberadaan kami sebagai guru di sana sangat mereka gunakan, karena keberadaan seorang guru di sana adalah sebuah anugerah. Sangat jarang ada guru lokal yang membantu di sekolah terutama di tingkat SMP yang hanya ada kepala sekolah saja. Hal ini sudah lumrah, karena banyak guru yang sudah diangkat sebagai pegawai negeri tidak berada di tempat tugas.
Siswa-siswi Bime, mereka adalah siswa yang sangat menyanjung dan menghormati guru. Setiap kali bertemu dengan kami guru, mereka akan menyapa “selamat pagi ibu guru, telebe” , “selamat pagi bapak guru, telebe”. “telebe” adalah kata sapaan bagi warga Bime. Kami mengajarkan kepada mereka cara berjabat tangan dengan orang yang lebih tua, mereka langsung menerapkannya sehingga selain menyapa kita dengan sapaan selamat pagi, mereka akan menjabat tangan kita. Ketika kami berjalan-jalan menuju kampung- kampung sambil membawa sesuatu, mereka yang melihat kami akan langsung bilang “Ibu guru itu berat, sini kita yang bawa”, “ibu guru hati-hati jalannya e! nanti jatuh” , “ibu guru sudah, jangan terlalu banyak jalan, nanti capek e!”. Mereka sangat menghormati guru, kata – kata jorok, hina dan jelek tidak pernah kami dapatkan dari mereka. Bahkan tidak jarang saat kita berkunjung ke rumah warga, kita selalu diberi hasil kebun seperti singkong, ubi, dan sayuran.
Selama mengabdi, kami bertempat tinggal di asrama sekolah. Ada anak-anak asrama yang menemani kita. Mereka adalah anak-anak yang tangguh, sangat menghormati dan menyayangi kami. Semua anak asrama adalah perempuan yang jumlahnya 6 anak, namanya Merita Wasini, Nudena Keduman, Artepina Trukna, Sitta Wasini, Yontilina Wasini dan Monika Keduman. Mereka sering membantu kami memasak, menata kayu bakar di dapur dan tidak jarang selalu membawa tawa dan senyum dengan cerita mereka yang lucu dan polos. Suatu hari, saya dan kedua teman guru SM3T sakit, jadi kami tidak bisa masak ataupun melakukan aktivitas lain. Mereka dengan senang hati dan penuh cinta membantu dan merawat kami. Mendoakan kami sambil menangis di dekat kami. “ sudah anak, jangan menangis, nanti saya ikut menangis” bilangku pada mereka dan mereka menjawab sambil memijatku “makanya ibu Nisa, cepat sembuh sudah,,, kemudian bermain-main dan belajar bersama lagi!”. Bahkan para pendeta, kepala desa dan warga setempat ikut mendoakan untuk kesembuhan kami. Sungguh, ini pengalaman pertamaku mendapatkan perhatian yang sangat luar biasa, perhatian yang tulus dan perhatian yang penuh cinta dari siswa dan seluruh masyarakat Bime. Jika kugambarkan, mereka bagaikan perawat yang profesional.
Berbicara mengenai siswa tidak lepas berbicara mengenai kemampuan dan minatnya terhadap belajar. Afrianus Sikwa adalah salah satu siswaku di kelas VIII SMPN Bime. Dia sangat antusias sekali dalam belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dia paling suka dengan pelajaran IPA dan Matematika, kebetulan sekali, saya mengajar kedua mata pelajaran itu. Dia sangat suka sekali berhitung, kemampuan berhitungnya cukup cepat walaupun terkadang kurang teliti. Sering kali, dia minta tugas sendiri di luar jam pelajaran dan bertanya mengenai pelajaran sehingga tidak jarang pula saya memberi tambahan pelajaran untuk dia. “ ibu Nisa, cepat dilihat sudah saya pu tugas, banyak yang salahkah?’ kata-kata itu menjadi tidak asing bagiku ketika dia sudah menyelesaikan tugasnya. Semangatnya untuk terus belajar merupakan kepuasan tersendiri bagiku, tak lelah tangan dan pikiran ini saat mengecek hasil pekerjaannya.
Bahkan, saya sering dibuat kagum olehnya. Suatu hari, saya memberikan pelajaran IPA yaitu menghitung usaha melalui perubahan energi potensial dan energi kinetik, pelajaran ini bagi murid sangat sulit dan banyak yang menyerah untuk mengerjakan soal tersebut. Namun, tidak berlaku kata menyerah di diri seorang Afrianus Sikwa. Awalnya dia merasa sangat sulit materi ini tetapi dia tetap sering mencoba mengerjakan soal soal yang berkaitan dengan materi tersebut. Dia sering bilang “ibu guru, saya ingin soal itu lagi, saya ingin bisa dan harus bisa mengerjakannya” , dengan senyuman bahagia kubalas dengan berkata “ e tentu anakku, ibu guru beri 1000 soal pun sanggup!” dia pun berkata sambil tertawa “Hei, ibu guru kalau 1000 soal, saya yang tidak sanggup!”.
Sebenarnya materi tersebut mudah dipahami namun siswa – siswa kurang teliti dan telaten. Afrianus memiliki cita-cita untuk menjadi guru. Dia selalu berharap dapat menjadi guru yang siap mengemban tugas. Dia bilang “ saya mau jadi guru yang selalu ada buat anak murid bu” “ saya ingin membantu anak-anak di Bime tidak kesulitan belajar hanya karena tidak ada guru”.
Kata-kata itu sangat menyentuh sekali apalagi dikatakan oleh seorang anak yang polos. Dia terus semangat belajar untuk meraih cita-citanya menjadi seorang guru. Sebuah harapan yang selalu dia doakan untuk menjadi kenyataan. “tetap berjuang nak, terus berusaha, berdoa dan semangat” kata-kata ini terus saya katakan padanya.
Gambar2. Kegiatan belajar mengajar di SD Inpres Atembabol Bime
Gambar3. Kegiatan belajar mengajar di SMPN Bime
Melihat semangat anak-anak murid di SD Inpres Atembabol Bime dan SMPN Bime untuk belajar, saya yakin masih ada setitik harapan untuk membuat Bime menjadi lebih baik.
“ tidak peduli siapa pun dia, jika terus berusaha melakukan yang terbaik pasti pengharapan yang baik akan diperoleh”.
Penulis : Asfiainnisa’, S.Pd ( Pendidikan Fisika)




No comments:
Post a Comment