Wednesday, March 7, 2018

Telur Emas yang Tak Pernah Menetas

Menyambangi anak-anak Delang Kerohong
Alam Kalimantan menawarkan timbunan harta yang luar biasa menggiurkan. Ironisnya, pada satu dua sudut bentang kekayaan itu pula terselip banyak wajah-wajah udik yang terisolasi dari pemerataan pembangunan, pendidikan khususnya, tersembunyi di balik timbunan yang terus digerus.

Delang Kerohong, salah satu kampung tertinggal di pedalaman Sungai Mahakam. Dapat kupastikan bahwa dalam beberapa tahun kedepan belum akan ada nama yang cukup luar biasa dari kampung tersebut untuk terekspos keluar, sebagai perbandingan dengan anak dari kawasan urban. Bukannya tidak kompeten untuk bersaing dengan anak-anak kota, tetapi sarana pendidikan yang tidak cukup menyentuh kawasan tersebut serta kurangnya tenaga pengajar jadi sebabnya. Hal ini kemudian berimbas pada statisnya kegiatan masyarakat dalam lingkaran hidup konvensional, berburu, menebang kayu, bertani ladang, atau mencari ikan di sungai sebagai mata pencaharian utama warga.

Sebagai contoh, Pak Kifli, beliau ialah salah satu pengurus Masjid di kampung Delang Kerohong. Lulusan SMA, pekerjaan sehari-harinya ialah berburu, bertani, menebang kayu di hutan, kadang juga menjadi tenaga pengajar pembantu di SD seberang karena kekurangan guru. Dalam wawancara singkat, beliau menuturkan bahwa anak-anak kampung tersebut sejak zaman dulu sampai sekarang sebagian besar hanya tamatan SD. Di zamannya dulu, hanya ada satu sekolah tingkat SD, di seberang sungai sana (Sambil mengadahkan mukanya ke seberang sungai). Sekarang lumayan, sudah ada 2 SD dan 1 PAUD. Tapi masalah berikutnya, tamatan SD bingung mau kemana setelah itu. SMP terdekat harus meyebrang sekitar 50km ke hilir sungai, dan mesti tinggal di kampung tersebut karena tidak bisa pulang pergi dalam 1 hari. Untungnya dulu beliau diizinkan untuk tinggal di Masjid, dan Alhamdulillah mampu menyelesaikan pendidikan hingga SMA dengan peringkat yang baik selama sekolah. Tapi kemudian setelah itu, sampai SMA saja. Masalah jarak dan ekonomi menjadi perintang beliau hingga tak melanjutkan ke perguruan tinggi di kota Samarinda atau Tenggarong. Nasibnya sudah cukup mujur dibanding teman-teman sebayanya, banyak dari mereka yang terhitung pintar waktu SD sering dapat juara, tapi karena masalah ekonomi dan jarak sekolah yang jauh, sehingga mereka tidak lanjut sekolah menengah. 
Wawancara bersama Pak Kifli di Delang Kerohong
Kekhawatirkan Pak Kifli ialah nasib adik-adiknya nanti, tidak ingin mereka turut merasakan sulitnya mendapatkan pendidikan. Setelah tamat SMA, kembali menjadi penebang kayu, bertani seperti warga kampung lainnya, atau yang lebih parahnya lagi jika muncul pemikiran untuk tidak bersekolah karena keputusasaan akibat sulitnya akses pendidikan, hingga ujung-ujungnya kembali masuk ke hutan. 
 
Menjadi pekerjaan rumah kita bersama pemerintah. Telur-telur emas dari Kampung Delang Kerohong ini butuh perhatian. Pemerintah perlu mendorong percepatan pembangunan kawasan tersebut, utamanya akses jalan dan akses pendidikan. Selain itu, sebuah kekeliruan ketika pemerintah memutuskan untuk menghentikan program pengiriman tenaga pengajar ke daerah-daerah terpencil karena kehadiran mereka dapat membantu mengisi kekosongan tenaga pengajar pada sekolah-sekolah di pedalaman.

1 comment: