Nama : Reni Apriani
TTL : Jember, 7 April 1992
Prodi :
Pendidikan Fisika
Penempatan SM-3T di Kampung Lumut, Manggarai Barat, NTT
Gelap malam menemani perjalanan kami ke tempat pesta di Kampung
Lumut. Berbekal lampu power bank dan sehand kami mendaki jalanan berbatu. Dingn
malam tak mampu menyeka peluh yang terus bercucuran selama perjalanan. Aku dan
beberapa teman guru membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk sampai di
acara pesta.
Pesta kali ini berbeda dengan pesta sebelumnya yang pernah
kuhadiri. Biasanya pesta dilakukan di tenda besar di tengah lapangan. Kali ini
pesta dilakukan di rumah dengan sederhana. Inilah yang membuat nama pesta
sekolah ini berbeda yaitu pesta “Lonto wa” yang artinya pesta duduk di bawah,
walaupun sebenarnya undangan tetap duduk di bangku. Namun karena sederhana dan
dilaukan di rumah saja, orang menyebutnya dengan istilah tersebut.
Aku dan rombongan teman guru antri untuk berjabat tangan dengan
tuan rumah acara. Setelah berjabat tangan dan memberi salam tempel aku
memutuskan untuk duduk saja di bangku, tanpa mengambil makanan. Aku tidak
menuju ke tempat makan karena sudah bis adipastikan makanan yang disajikan
adalah makanan yang mengandung babi. Teman guruku, Ibu Tin ikut menemaniku di
bangku. Sebenarnya aku sudah mempersilakan beliau untuk mengambil makanan, tapi
beliau menolak karena sudah kenyang. Ketika sedang duduk santai menikmati
music, ada seorang bapak yang menghampiriku. Beliau menanyakan apakah aku mau
makan dengan mie. Aku pun menolaknya. Andalan makanan di kampung ini adalah mie
instan. Jika aku tidak menyembelih ayam, maka pihak pesta pasti menyediakan mie
instan dan telur jika ada di kios.
Setelah beberapa saat duduk, kami memutuskan untuk pulang karena
sudah larut malam. Ketika beranjak dari tempat duduk, pembawa acara
mendatangiku.
“Ibu, sudah mau pulang kah?” kenapa terburu-buru, tidak goyang dulu
kah? Ini pesta terakhir Ibu di Kampung ini, tidak inginkah Ibu untuk goyang?”
tanyanya sambil berharap
“Ah, tidak terima kasih. Saya harus segera pulang karena sudah
malam.” Jawabku tenang.
Kami mengobrol sedikit seputar kepulanganku ke Jawa dan program
kelanjutan yang akan kutempuh. Dia adalah mahasiswa lulusan STKIP Ruteng,
Manggarai jurusan Bahasa Indonesia. Dia pernah bertanya-tanya tentang program
SM3T yang membawaku ke kampungnya. Semoga dia termotivasi untuk mengikuti
program SM3T selanjutnya.
Akhirnya aku dan teman-teman guru berjalan pulang ke kampung Kakor.
Di perjalanan, Tanta Rizal menceritakan kepada yang lain jika aku tidak
menikmati hidangan di pesta. Beliau berargumen seharusnya pihak pesta
menyediakan makanan khusus untukku.
“Harusnya pihak pesta itu sudah sedia makanan untuk Ibu. Tidak
mungkin Ibu tidak hadir jika di undang.” tukasnya sedikit kesal.
“Tidak masalah Tanta. Namaya juga pesta lonto wa, pesta duduk. Saya
datang untuk duduk juga sudah cukup, tidak perlu makan.” Jawabku sedikit bercanda
“Wah, benar juga Ibu Ren. Pesta lonto, cukup dengan duduk saja”
kata Pak Alber sambil menahan tawa.
Sebenarnya bukan hidangan yang kita makan saat menghadiri pesta.
Menghadairi pesta adalah sikap menghargai kita kepada yang mengundang. Aku
memaknai undangan sebagai suatu tanda kehormatan yang diberikan kepadaku.
Terlebih acara pesta sekolah yang tujuan utamanya adalah penggalangan dana
untuk pendidikan, tentu niat utamanya adalah membantu agar siswa bisa
melanjutkan sekolah.


No comments:
Post a Comment