Wednesday, March 7, 2018

Pesta Sekolah Lonto Wa



Nama   : Reni Apriani
TTL     : Jember, 7 April 1992
Prodi   : Pendidikan Fisika
Penempatan SM-3T di Kampung Lumut, Manggarai Barat, NTT

Gelap malam menemani perjalanan kami ke tempat pesta di Kampung Lumut. Berbekal lampu power bank dan sehand kami mendaki jalanan berbatu. Dingn malam tak mampu menyeka peluh yang terus bercucuran selama perjalanan. Aku dan beberapa teman guru membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk sampai di acara pesta.

Pesta kali ini berbeda dengan pesta sebelumnya yang pernah kuhadiri. Biasanya pesta dilakukan di tenda besar di tengah lapangan. Kali ini pesta dilakukan di rumah dengan sederhana. Inilah yang membuat nama pesta sekolah ini berbeda yaitu pesta “Lonto wa” yang artinya pesta duduk di bawah, walaupun sebenarnya undangan tetap duduk di bangku. Namun karena sederhana dan dilaukan di rumah saja, orang menyebutnya dengan istilah tersebut.
 
Pesta Lonto Wa,    Image Source: ntttime.wordpress.com
Aku dan rombongan teman guru antri untuk berjabat tangan dengan tuan rumah acara. Setelah berjabat tangan dan memberi salam tempel aku memutuskan untuk duduk saja di bangku, tanpa mengambil makanan. Aku tidak menuju ke tempat makan karena sudah bis adipastikan makanan yang disajikan adalah makanan yang mengandung babi. Teman guruku, Ibu Tin ikut menemaniku di bangku. Sebenarnya aku sudah mempersilakan beliau untuk mengambil makanan, tapi beliau menolak karena sudah kenyang. Ketika sedang duduk santai menikmati music, ada seorang bapak yang menghampiriku. Beliau menanyakan apakah aku mau makan dengan mie. Aku pun menolaknya. Andalan makanan di kampung ini adalah mie instan. Jika aku tidak menyembelih ayam, maka pihak pesta pasti menyediakan mie instan dan telur jika ada di kios.

Setelah beberapa saat duduk, kami memutuskan untuk pulang karena sudah larut malam. Ketika beranjak dari tempat duduk, pembawa acara mendatangiku.

“Ibu, sudah mau pulang kah?” kenapa terburu-buru, tidak goyang dulu kah? Ini pesta terakhir Ibu di Kampung ini, tidak inginkah Ibu untuk goyang?” tanyanya sambil berharap
“Ah, tidak terima kasih. Saya harus segera pulang karena sudah malam.” Jawabku tenang.

Kami mengobrol sedikit seputar kepulanganku ke Jawa dan program kelanjutan yang akan kutempuh. Dia adalah mahasiswa lulusan STKIP Ruteng, Manggarai jurusan Bahasa Indonesia. Dia pernah bertanya-tanya tentang program SM3T yang membawaku ke kampungnya. Semoga dia termotivasi untuk mengikuti program SM3T selanjutnya.

Akhirnya aku dan teman-teman guru berjalan pulang ke kampung Kakor. Di perjalanan, Tanta Rizal menceritakan kepada yang lain jika aku tidak menikmati hidangan di pesta. Beliau berargumen seharusnya pihak pesta menyediakan makanan khusus untukku.
“Harusnya pihak pesta itu sudah sedia makanan untuk Ibu. Tidak mungkin Ibu tidak hadir jika di undang.” tukasnya sedikit kesal.
“Tidak masalah Tanta. Namaya juga pesta lonto wa, pesta duduk. Saya datang untuk duduk juga sudah cukup, tidak perlu makan.” Jawabku sedikit bercanda
“Wah, benar juga Ibu Ren. Pesta lonto, cukup dengan duduk saja” kata Pak Alber sambil menahan tawa.

Sebenarnya bukan hidangan yang kita makan saat menghadiri pesta. Menghadairi pesta adalah sikap menghargai kita kepada yang mengundang. Aku memaknai undangan sebagai suatu tanda kehormatan yang diberikan kepadaku. Terlebih acara pesta sekolah yang tujuan utamanya adalah penggalangan dana untuk pendidikan, tentu niat utamanya adalah membantu agar siswa bisa melanjutkan sekolah.

No comments:

Post a Comment